Halaman

Minggu, 13 Januari 2013

Hantu Minggu Sore

Selamat sore guys :D

-----Hantu Minggu Sore-----

     Suara motor datang menandakan Bejo sang pemilik baru yang baru pindah kemarin kamis pulang dari kantornya. Bejo membuka pagar rumahnya. Ia mulai memasuki rumahnya. Bejo kelihatan sangat lelah, pekerjaan Bejo di bagian pelayanan masyarakat membuat hari sabtu harus ia jalani dengan bekerja. Ia juga baru saja lulus kuliah, beruntungnya Bejo langsung mendapatkan pekerjaan. 

     Ini adalah malam minggu pertamannya di kota itu. Ia bingung mau menghabiskannya dengan apa. Karena ia juga belum kenal warga sekitar dan lagi pula teman-temannya juga tidak ada yang tinggal di kota itu.
Bejo melepas bajunya dan menaruhnya di bak. Ia langsung bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan badan sejenak.

     Di dalam kamar mandi Bejo mencoba merenungkan kehidupannya kelak. Ia sudah mendapatkan pekerjaan yang mapan. Dan sudah saatnya ia mencari pasangan hidup dan mulai hidup baru. Mantan pacarnya memutuskannya karena ia harus sekolah S2 di luar negeri. Ia mengerti itu dan memakluminnya. Dibandingkan dengan status mantan pacarnya Bejo sangat jauh. Ia datang dari keluarga yang lebih materialnya.

     Bejo selesai membersihkan badannya. Ia lekas memakai baju santai dan menuju ruang tamu. Ia membuka laptop kesayangannya dan memulai untuk berhubungan dengan teman-temannya di dunia maya. Memang Bejo baru pindah ke rumah itu perabotannya pun juga belum lengkap. Gaji pertamannya saja belum ia dapatkan. Ia hannya mengandalkan uang saku dari orang tuannya dari desa.

     Suara pagar terbuka terdengar dari telinga Bejo. Ia bergegas melihat ke luar rumah. Sepertinnya ada tamu. Bejo membukakan pintu dan menyuruhnnya masuk ke dalam. Tamu itu terlihat sudah tua ia memakai baju lurik dan blangkon di kepalannya seperti orang2 jawa pada jaman dulu. "permisi nak ada yang ingin bapak sampaikan tentang rumah ini". "Oh ya pak silahkan duduk dulu" Bejo bergegas ke belakang menyiapkan dua kopi untung dihidangkan.

     "Maaf pak hannya ini yang saya punnya maklum masih bujang silahkan". "Hahahaha terima kasih nak" kata pak tua sambil meminum kopinnya. "Bapak tinggal dimana?" tanya Bejo kepada bapak tua itu. Dia memulainnya dengan basa-basi dan dia tau rumah kakek itu. Sebenarnya Bejo sangat senang kedatangan seorang tamu menemani malam minggunya yang sunyi itu.

     "Sebenarnya keperluan saya datang kemari mau memberi tahu tentang rumah ini" Bejo memperhatikannya dengan wajah yang serius. "Rumah ini mempunyai penunggu". "Maksudnya penunggu pak?" tanya Bejo dengan heran sebenarnya Bejo tahu yang dimaksud penunggu itu. "Ya maklhuk halus, dulu makhluk itu sering mengganggu kehidupan masyarakat sini. Karena sangat mengganggu, masyarakat memanggil oang pintar untuk mengusirnya. Tapi kata orang pintar itu maklhuk itu sangat sakti dan tidak mau dipindah." Bejo mendengarkannya dengan serius sambil menikmati kopi instant buatannya itu. "Jadi si orang pintar itu berasil berunding dan mendapatkan perjanjian yaitu setiap malam minggu harus menyiapkan sesaji dan menyan untuknya agar tidak mengganggu masyarakat sekitar." "Jadi saya harus melakukan semua itu??" Bejo mengatakannya dengan nada tinggi. Bapak tua itu mengangguk. "Maaf ya pak saya tidak percaya sama yang begituan." Ucap Bejo. Bejo adalah anak kuliahan jadi rasanya gengsi kalo percaya sama yang begituan. Lagi pula menuntut ilmu di universitasnya mengajarkannya untuk berpikir lebih rasional. Bejo juga berpikir perkataannya itu dapat membuat bapak tua ini tersinggung. Memang masyarakat sekitar sini masih ada yang animisme.

     Bapak tua itu tertawa sambil memperingatkan Bejo. "Hahahahaha, maaf ya nak yang penting bapak sudah memperingatkan" suasana menjadi agak canggung. "Brook" terdengar seperti ada sesuatu yang jatuh dari belakang rumah. Bejo dengan kaget spontan untuk menoleh ke belakang. "kucing mungkin" pikirnya. Ia pun kembali menoleh ke bapak tua itu duduk. Dan ia sangat terkejut dengan apa yang terjadi.

     Bapak tua itu menghilang entah kemana. Bejo bergegas ke luar rumah. Tetapi ia dikejutkan lagi pagar rumah kontrakannya itu masih rapi seperti ia pulang kerja tadi, seperti tidak ada yang membukannya. Bejo pun heran dengan apa yang terjadi. Ia kembali masuk ke dalam rumah kontrakaannya. Sekali lagi ia dikejutkan dengan kopi yang diminum bapak tua itu masih utuh seperti tidak ada yang minum sama sekali. Padahal Bapak tua itu menghabiskan kopi itu sedikit demi sedikit saat bapak itu bercerita. "Apa mungkin di rumah ini ada penunggunya ya..? Makannya harga kontrakan rumah ini sangat murah." pikir Bejo dengan sedikit rasa khawatir.

     Telepon genggamnya berbunyi mengagetkan pemuda yang baru lulus kuliah itu. Jantungnya berdebar-debar saat mendengar teleponnya yang berbunyi. Ia mulai memikirkan yang tidak2. Dia melihat telepon genggamnya dan nomor yang tidak kenal. Bejo sampai2 mengeluarkan keringat karena ia sangat khawatir dengan apa yang terjadi. Ia memberanikan diri untuk mengangakat teleponnya "halo?".

     "Hai.. sayang ini aku" Bejo bernafas lega yang menelponnya itu adalah mantan pacarnya. "Oh Hai ada apa bukannya kita sudah putus??" tanya Bejo dengan heran. "Begini sebentar lagi aku lulus dan aku gk bisa melupakanmu aku mau balikan jo." Bejo hanya terdiam memang sore tadi Bejo juga memikirkan mantannya dan dia ingin sekali mempunyai keluarga. "Aku dengar kamu diterima jadi pegawai kantor yang mapan ya selamat ya...". Bejo hanya mengucapkan terima kasih. "Aku punya kabar nih orang tua ku akhirnya menyetujui hubungan kita. Bagaimana kalau bsk sore kita ngobrol di kafe aja?" Tentu saja Bejo menerimannya dia menyarankan kafe yang romantis dan terkenakl di kota itu wajah Bejo yang tadi sedikit kaget menjadi senang campur gembira. "Ngomong-ngomong kamu tinggal dimana Jo?". Bejo memberikan alamat rumahnya ke perempuan itu. Mereka saling mengobrol lewat telepon sampai malam. Seakan2 Bejo lupa tentang kejadian aneh tadi. "Sudah ya Jo jangan lupa besok jam 5". Bejo pun hatinya senang ia bergegas ke kamarnya untuk mengakhiri hari sabtunya itu.

     Minggu pagi. Bejo mulai terbangun. Ia merenggangkan tubuhnya dan melihat jam. "Jam berapa sekarang" pikirnya, ia melihat jam di telepon genggamnya dan menunjukan jam 7 pagi. Dengan masih mengantuk ia melakukan senam pagi sederhana di dalam kamarnya. Dia melihat telepon genggamnya lagi. Dan aneh sekali tidak ada sinyal sama sekali. Pikirnya mungkin saja ada gangguan atau perbaikan namannya juga kota kecil.

     Ia melihat sekeliling kamarnya. Dan dia sangat terkejut membuatnya jantungnya berdebar dengan cepat. "Ini bukan kamarku yang kemarin" ia semakin panik. Kamarnya berubah menjadi lebih kuno dengan ornamen2 jadul dan kotor. Ia berlari ke luar kamar. Dan Ia terkejut rumahnya tampak lebih luas. Dan jelas-jelas itu bukan rumah kontrakannya yang dulu. Ia mencoba keluar rumah dan dia berada di daratan yang dikelilingi dengan jurang tidak ada jalan keluar. Ia masih berpikir ini mimpi ia mencoba membangunkan mimpinya dengan cara menggigit tangan. Ia terus menggigit tangannya samapai berdarah. 

     Minggu Sore jam 6. Di suatu kafe terkenal di kota itu. Seorang perempuan sedang sibuk menelpon dengan wajah panik. Ia tetap menunggu sampai jam 9 malam. "Apa yang terjadi pada Bejo? dia tidak bisa kuhubungi. Dasar laki laki memang...". Perempuan itu meninggalkan kafe itu dengan wajah baru saja menangis.

     Sebulan setelah kejadian itu perempuan itu mendapatkan kabar dari orang tuannya di desa bahwa Bejo tidak bisa dihubungi. Akhirnya perempuan itu tergugah untuk mencari tau apa yang terjadi sebenanya. Ia mendatangi kantor Bejo. Perempuan itu terkejut bahwa Bejo tak pernah masuk kantor. Dan pihak kantorpun juga tidak bisa menghubunginnya. "Bejo tidak sebodoh itu" pikir perempuan itu. Perempuan itu ingat bahwa ia pernah mencatat alamat Bejo saat berbincang lewat telepon sabtu lalu.

     Ia mendatangi sebuah kampung di pinggiran kota itu. Ia berputar-putar di kampung itu dan akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dan bertannya kepada warga sekitar. Ia melihat bapak tua memakai baju lurik dan belangkon seperti orang-orang Jawan jaman dulu sedang duduk sendirian di depan sebuah rumah yang hampir rubuh. "Maaf bapak permisi, bapak tahu alamat ini ??" tanya perempuan itu. Bapak tua itu menatap perempuan itu dengan tatapan tajam spontan membuat perempuan itu ketakutan. "Maaf pak?" "Oh iya neng, wah ini itu alamat kuburan lho neng. Mau bapak antar. Mau mencari makam kerabat ya.." jawab bapak tua dengan wajah ramah. Perempuan itu kaget. "Maaf pak Kuburan ??? bukannya ini rumah kontrakan ya?" "Kontrakan neng ini dari dulu juga kuburan." Perempuan itu tidak bisa berbuat apa2 dan segera berpmitan. Saat pulang ia lupa menannyakan apakah bapak itu kenal Bejo. Ia segera membalikan badannya. Ia terkejut rumah yang hampir rubuh itu tidak ada begitu juga dengan bapak tua itu.

-----The END-----

Maaf ya kalau ceritanya aneh.
Maaf ya kalo banyak kesalahan menulis. Saya masih butuh banyak belajar.
Maaf kalo ada kesamaan nama tokoh. (tapi sepertinya gk ada) :D
Thanks guys.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar